RSS

The Special Moment Of Ramadhan

Minggu, 30 agustus lalu. Saya mendapat kesempatan untuk menjadi mentor pesantren Ramadhan putra putrinya para kader. Mulanya, saya tidak terdaftar sebagai pementor dalam acara yang diadakan oleh DPD PKS kota Bandung yang bermarkas di jln. Kinanti tersebut. Namun, atas ijin Allah SWT akhirnya nama saya masuk kedalam daftar nama pementor. Jujur saja ada rasa khawatir yang menyinggahi, sebab untuk pertama kalinya saya menjadi pementor anak-anak yang rentang usianya dari kelas empat SD hingga kelas satu SD.

Acara yang dilaksanakan di mesjid PT. PINDAD itu dihadiri sekitar delapan puluhan peserta. Saya sendiri diamanahi menangani lima belas orang anak yang kesemuanya ikhwan, karena peserta membludak. Sedikit grogi dan agak bingung ketika pertama kali menemui mereka. Ya, ternyata mengatur anak SMP atau SMA jauh lebih mudah dibandingkan dengan mereka he,,he,,

Ta’aruf peserta dengan pementor,,

Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya amat grogi ketika menghadapi mereka. Intinya sih takut garing.... dengan dimulai basmalah saya mulai mengetahui nama-nama mereka. Ada Aulia (si mungil yang pendiam, dan saya rasa ada banyak kemiripan dengan saya), M Afiq A (^.^ keep Smiling), Zulfan (seorang yang sangat pandai berbicara dan juga luar biasa aktif), Kholil (gayanya sangat Cool, meski masih kelas dua SD he,,he,,) Luthfi M. Al Fatih (anak yang paling kreatif, menurut kacamata penglihatan saya), M. Azka (Smart dan sangat baik hati), Fathur, ravy, luqman, rifki, fadhil ( mereka semua anak manis dan penurut he,,he,,) Azam & Hilmi (si pemberani, adik kakak yang kayak anak kembar), dan yang Terakhir adalah Ghulam (heboh, riweh, dan aktifnya ngak ketulungan’ hiks).

Game ta’aruf dan Explor curhat anak

Kegiatan selanjutnya dilaksananakan di luar ruangan, sebuah games yang sangat mengsyikan. Meskipun saya rasa mungkin mereka belum mengetahui teori2 kepeminpinan, tapi dalam pelaksanaan game tersebut teori2 tersebut sukses diformulasikan.

Momen explor curhat adalah, hal terpenting dalam acara ini. Sebenarnya tujuan acara ini diadakan adalah untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka menjadi putra putri dari para kader dakwah. Dan Subhanallah, saya tidak pernah mengira kalau saya akan mendapatkan jawaban-jawaban yang sangat luar biasa saat ditanya keadaan Umi & Abinya yang sibuk dengan amanah Dakwah. Luar biasa, diusia yang masih sangat muda, mereka semua sudah faham akan urgensi dakwah. Mereka semua telah diberikan pondasi oleh kedua orangtuanya agar dapat melanjutkan amanah dakwah. Badan ini terasa melemas mendengar jawaban-jawaban mereka... saya bersyukur diberi kesempatan untuk dapat bertemu dengan mereka, malaikat-malaikat kecil yang sangat bercahaya. Saya yakin, dibeberapa tahun yang akan datang mereka semua akan menjadi ujung tombak dari dak’wah ini.

Materi AMT

Kali ini giliran dari Trusco, yang menyampaikan materi. Adik binaanku ada yang tertidur pulas,, Aulia, aulia he..he.. Setelah acara AMT, selanjutnya diikuti acara games-games, serta ditutup dengan acara bagi-bagi hadiah. Alhamdulillah.....

Sukses Kecil Ke Sukses Besar

Tiga komandan pasukan dalam Perang Mu'tah itu berguguran sebagai syuhada, Zaid Bin Haritsah, Ja'far Bin Abi Thalib, dan Abdullah Bin Ra-wahah. Pasukan muslim yang berjumlah sekitar 3000 orang memang tampak tidak seimbang ketika harus berhadapan dengan 200.000 orang dari Pasukan Romawi yang dipimpin langsung oleh raja mereka, Heraclius.Kelihatannya, Rasulullah saw sudah meramalkan kejadian itu. Maka, beliau berpesan kepada pasukan ini, apabila ketiga komandan mereka gugur, maka mereka harus memilih seorang komandan baru di antara mereka. Dan yang dipilih oleh kaum muslimin ketika itu adalah Khalid Bin Walid.

Akan tetapi, apakah yang kemudian dilakukan Khalid Bin Walid? Beliau justru menarik mundur pasukannya ke Madinah. Penduduk Madinah tidak dapat memahami strategi ini. Maka, anak-anak mereka melempari Pasukan Khalid, karena menganggap mereka pengecut dan meninggalkan peperangan. Namun, Rasulullah saw justru memberi gelar kepada Khalid sebagai "Saefullah al-Maslul" (Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus).Secara gemilang, Khalid telah berhasil menye¬lamatkan banyak nyawa para sahabat dari sebuah pertempuran yang tidak seimbang. Ini bukan sekadar sebuah pertempuran, tetapi sebuah peperangan. Masih ada medan lain yang akan mempertemukan mereka dengan Pasukan Romawi. Hanya lima tahun setelah itu, Khalid Bin Walid membuktikan sabda sang Nabi dalam Perang Yarmuk.

Sukses dalam Perang Yarmuk adalah puncak dari sederet sukses-sukses kecil yang telah diraih Khalid sebelumnya. Dialah ujung tombak pembebasan Mekkah, komandan Perang Riddah, dan pembuka pintu pembebasan Persi. Maka, begitulah kenyataan ini menjadi kaidah kepahlawanan, bahwa kesuksesan besar sesungguhnya merupakan kumpulan dari kesuksesan-kesuksesan kecil, yang dirakit perlahan-lahan, dalam rentang waktu yang panjang.

Sukses besar, dalam sejarah hidup seorang pahlawan di mana ia mencapai puncak, lebih mirip sebuah pendakian. Tidak semua orang sampai ke puncak. Namun, semua yang sampai ke puncak harus memulai langkah pertamanya dari kaki gunung. Ini kaidah yang terjadi dalam semua medan kepahlawanan.

Imam Syafi'i menulis banyak buku. Namun, prestasi ilmiahnya yang paling gemilang adalah temuannya atas ilmu Ushul Fiqh. Ibnu Taimiyah menulis banyak buku, tetapi kumpulan fatwanyalah yang paling monumental. DR. Yusuf Al-Qardhawi menulis banyak buku, tetapi mungkin buku Fiqh Zakat yang paling prestisius. Sayyid Quthb menulis banyak buku, tetapi Fii Dzilalil Quran yang paling abadi.

Apa yang perlu kita ketahui adalah proses perjalanan dari sukses kecil ke sukses besar. Secara psikologis, sukses-sukses kecil itu membangun dan memperkokoh rasa percaya diri para pahlawan. Akan tetapi, dalam proses kreativitas, sukses-sukses kecil itu memberi mereka inspirasi untuk memunculkan karya yang lebih besar. Ibnul Qoyyim benar ketika beliau mengatakan, "Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mengajak saudara-saudaranya yang lain.

Anis Matta. (Mencari Pahlawan Indonesia)

Lelaki Yang Tak Pernah Mencaci Keledai

Lelaki itu heran. Dilihatnya orang-orang berbincang tentang banyak hal. Tetapi selalu saja sumber perbincangannya berasal dari sesososk oarang khusus. Abu juray, lelaki yang heran itu terus mencari tahu. Siapakah geranganan sosok khusus itu. Tak ada pembicaraan orang, kecuali bersumber dari sosok itu.
“Siapa sososk itu?” tanyanya pada orang-orang.
“ Dia Rosulullah.” jawab mereka.
“Alaikasalam ya rasulullah.” gumamnya.
“Hei jangan berkata alaikasalam, tapi katakanlah Assalamualaikum. Sebab alaikasalam itu ucapan untuk orang yang mati.” jawab orang-orang.
Setelah bertemu Rasulullah saw, Abu juray bertanya, “engkau Rasulullah?.”
Rsaulullah Menjawab, “Aku adalah Rasul utusan Allah, Dzat yang apabila kamu terkena kesulitan, lalu kamu berdoa kepadanya, nisacaya ia akan melepaskan kesulitan itu darimu dari kamu.”
Hari itu abu juray belajar tentang Allah SWT. Tentang betapa Maha pengasih dan penyayangnya Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tampaknya ia telah mendapatkan jawaban atas penasarannya. Abu juray kemudian meminta nasihat khusus kepada Rasulullah.
“Nasehati aku dengan nasehat yang mengikat.”Pintanya pada Rasulullah.
“ Janganlah kamu mencaci seorang pun. Janganlah kamu menghina sebentuk kebajikan apapun. Bicaramu dengan sesama saudaramu dalam keadaan wajahmu yang cerah, sungguh itu adalah sebuah kebajikan. Tinggikan kainmu dan jangan kau juntaikan, karena itu bagian dari kesombongan. Dan jika seseorang menghina kamu dan mencaci kamu dengan suatu yang dia tahu bahwa itu memang ada pada dirimu, janganlah kamu membalas menghina dan mencacinya dengan sesuatu yang kamu tahu itu ada pada dirinya. Biarkan kesudahannyya kembali pada dirinya. Dan bagimu pahalanya. Dan, jangan mencaci apapun.”
Hari-hari sesudah itu, bagi lelaki itu, adalah iman, pencerahan, jalan lurus, menunaikan janji yang diminta dari Rasulullah saw dan perjungan mempertakankan konsistensi. Abu juray benar-benar mengambil jalan hidupnya yang tercerahkan. Ia menuturkan, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah menghina dan mencaci seorang pun, budak maupun orang merdeka, tidak pula aku pernah mencaci keledai maupun domba.”
Dilain waktu ia berkata, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah mencaci orang atau binatang.”
Abu Juray telah mengambil sisi besar dalam keputusan hidupnya. Ini bukan sekedar selera pribadi, atau pilihan suka-suka. Siapa pun yang sadar, bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab hidup orang lain pedih dan getir, adalah salah satu bara diantara berjuta bara api yang bisa membakar kehidupan kemanusiaan.
Ini semua pilihan keterhormatan. Sekumpulan nilai-nilai dalam rasa keberartian kita bagi diri sendiri dan sesama. Sulit. Memang. Tapi menyuburkan keluhuran jiwa dan memperkaya kebaikan hati, selalu menghadapi godaannya yang paling besar: diri sendiri.

BURUNG PATAH SAYAP (sebuah catatan dakwah seorang ukhti)

Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan.
“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu terbatas? Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?” Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku. Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah menikahi akhwat yang lebih muda. Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya. Dungdungdungdung…..
Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran. Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak generasi baru jundullah. That’s the point, namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner dakwahku…
Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis dari pernikahan para aktivis.
Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.
Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi. Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina, kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan? Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya, menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya. Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang, jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini? Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).
Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat. Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja. Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan pertemuan dengan-Nya.
Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan. Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari apa sih?).
Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat. Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak). Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita, tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa membuktikannya alias konsulen teoritis saja).
Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i sebelum yang lainnya ).
Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan. Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja. Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya, meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.
Tapi semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat, dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan yang saling menyemangati antar para umahat untuk mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.
Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa, sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua orang yang dicintanya…. Demi izzah Islam.Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena seringkali ialah musuh terbesar kita.
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).
Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya. Wallahualam bishawab.
Catatan seorang sahabat Azzam Syahidah,,

Mamah, Dede janji ngak bakal makan Mie lagiiii,,,

Hari itu sore-sore habis nyontreng, tepatnya sih abis Maghrib aku mandi seperti biasa. Tanpa disangka, apa yang kulakukan itu membuat penyakitku kambuh,, sekitar jam sembilan malam aktifitas mual dan muntahku pun dimulai. Ohwh,, rasanya sungguh ngak bisa digambarkan dengan kata-kata. Pertolongan pertama secara tradisional di campur dengan obat yang biasa sudah dimakan, sungguh tak mempan.

Akhirnya tepat jam sebelas malam, aku dibonceng Papah, Mamah ke Dokter. Kalo saja ada orang yang melihat saat itu, mungkin kayak abang becak yang ngangkut barang-barang pindahan. Secara tiga orang yang bukan anak-anak lagi berada dalam satu motor,, huaaa,,,,,,. Untung saja, Om dokternya belum tidur, meski sudah bukan jam kerja Om dokternya masih cukup ramah menyapaku.

Berita buruknya adalah, katanya jarum infusan akan menyapaku lagi. Huaaa aku ngak mau lagi,,,, Sudah cukuplah sampai masa SMA saja jarum itu tak menghampiriku tOObat,,,

Untungnya setelah, omM dokternya memberikan pertolongan pertama. Beliau memutuskan menunda setengah jam untuk memasukan jarum ituU ke tanganku. Katanya kalo ada perubahan, rencana penancapan JaruUmnya batal. Alhamdulillah setelah setengah jam aku boleh pulang dan tidak perlu itu,,, kata beliau penyebabnya bukan mandi sore, tapi makananku yang ngak sehat. Mamah!! Aku janji ngak bakal makan mie lagi deh,,, kalo ngak lupaa...

Klinik,,,,,,,, “Aku ingin seperti dia”...

Dua hari yang lalu, aku ikut mengantar Mamah untuk Cek Up kesehatannya. Di ruang tunggu yang menyesakan, mataku tiba-tiba saja tertuju pada seseorang. Sosoknya tidak tinggi, tetapi tegap. Berkacamata dan matanya sangat berbinar. Saya yakin pasti beliau salah satu intelektual muda yang dimiliki negara tercinta ini. Terbukti dengan jaketnya yang berlabelkan PNPM mandiri jabar.

Melihat sosoknya yang seperti itu, aku yakin bukan beliau yang berkepentingan dengan Dokter yang ku kenal sejak kecil itu. Ternyata benar, beliau mengantar seseorang. Seorang akhwat muda, mungkin SMA atau mahasiswi sekitar semester satu/dua. Parasnya ayu dan begitu menentramkan saat melihatnya. Meskipun, saat itu air mukanya sangat kuyu, mungkin karena sakit yang tengah dideritanya.

Saat mataku tertuju melihat akhwat tadi, perasaanku mulai campur baur. Ada rasa iri dan kagum di dada ini ketika melihat sosoknya. Gerak geriknya begitu mencerminkan seorang akhwat, cara berpakaiannya, gaya bicaranya, menundukan pandangannya dan tatapannya yang begitu menyejukan. Sungguh saat itu, aku merasa bertemu dengan makhluk yang luar biasa menurutku. Aku sempat berfikir mungkin seperti itulah bidadari surga.

Saat kuingat diriku, akhggg............... berantakan. Meski gamis ini sudah kupakai, tapi celana panjang ini pun ikut manis nangkring melengkapi baju gamisku. Kerudungku?? Masih jauh dengan akhwat tadi. Tatapanku, sepertinya masih belum bisa terjaga dan masih jalan-jalan. Buktinya, sosok yang kulihat di klinik itu, bukan akhwat yang luar biasa tadi yang pertama kulihat. Sebelumnya aku melihat ibu-ibu gendut, bapak-bapak kurus yang masih saja terus merokok, dan seribu gambaran orang-orang yang kutebak-tebak tanpa merasa berdosa.

Parahnya lagi, aku masih suka keluyuran dengan motor malam-malam’ pun saat ini. Meskipun selalu menempatkan alasan yang dapat melegalkan aktivitasku tadi. Dua hari yang lalu saja, aku baru pulang dari acara camping yang membuatku hampir empat harian berjauhan dari rumah, padahal kondisi Mamah kurang begitu baik. Aku merasa semakin berdosa karenanya, dan aku sangat yakin akhwat tadi tak akan pernah melakukan apa yang telah kulakukan. Olahraga bela diripun baru beberapa bulan yang lalu, baru bisa kulepaskan. Teman-temanku masih banyak yang kacau, berKTP laki-laki dan agak lumayan banyak yang aneh-aneh.

Tapi klinik,,,,,, suatu saat nanti aku ingin seperti akhwat tadi. Sepertihalnya Bidadari surga yang ada dalam benakku,,

Izinkan Aku Cuti Dari Dakwah Ini

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.
Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???
Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.
Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.
Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya.
Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.
Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf” dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.
Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.
Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah. Semoga….
Yahdi Siradj (ADF)