Akhirnya setelah mengorupsi dua hari peraturan mamah, aku sampai juga di rumah. Mudik lebaran kali ini agak sedikit berbeda, kulewati puing-puing bangunan yang berserakan di daerah Pangalengan. Biasanya wilayah itu adalah tempat favoritku. Betapa, aroma pinus dan rumput liar sangat khas menyapa hidung itu seketika sirna dengan tragedi.
Tapi syukurlah tidak sampai disitu saja, ternyata rasa peduli itu masih ada. Begitu banyak bantuan yang berdatangan. Kusempatkan terlebih dahulu untuk mampir disana, di tenda-tenda bantuan yang telah berdiri, teman2 Dkm Unpad, korsa ITB, SSg dan banyak lagi yang lainnya.
Tradisi lebaran hari pertama di keluargaku adalah berkumpul di rumah Eyang. Seingatku dari tahun ketahun pasti ada personil baru yang ikut berkumpul dirumah Eyang. Kalo dihitung-hitung hampir 30an orang, udah cukup buat satu RT, he,,he,, mulai dari anak, menantu, cucu hingga cicit. Pokoknya rame,,
Meski tiga hari sebelum lebaran Eyang sempat dirawat di rumah sakit, tapi semuanya baik-baik saja dan nampak ceria.. taqoballahu minna wa minkum syiamana wa syiamakum,,, taqobbal Ya kariim
Kuingin Ramadhan kali ini Lebih Berarti
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Minggu, 13 September 2009
/
Comments: (2)
Jika saat ini ditanya siapakah orang yang paling berarti dihati ini? Maka jawabannya adalah semuanya teramat berarti. Sungguh mereka semua menempati posisi-posisi yang istimewa dihati ini. Tak mungkin posisinya ada yang menggantikan atau tergantikan.
Maka tatkala satu orang yang sangat berarti itu tidak pada posisinya, hidup ini akan terasa pincang. Tentu saja kudapat berdiri, tapi belum tentu kudapat berlari.. Namun, saat ini, detik ini, menit ini, jam ini kepingan-kepingan jiwa ini sudah lengkap dan tersususn rapi. Maka aku pun dapat berkata “aku dapat berdiri dan berlari”.
Alhamdulillah, Ramadhan kali ini sangat sempurna. Kuingin menikmati suasana indah ini dengan penuh rasa syukur, tak ingin kukotori semua ini dengan perasaan-perasaan nafsu yang dapat membelenggu. Kuingin ramadhan kali ini Beararti dan aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Allah SWT dan Rasulnya.
I’tikaf Pertamaku
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
/
Comments: (0)
Barakallahufiik....
Baru kali ini kurasakan nikmatnya I’tikaf. Memang sedikit memalukan, diusia yang entah berapa’ baru kali ini merasakan ber i’tikaf. Tapi aku yakin tidak ada yang terlambat untuk kebaikan..
Sepuluh hari terakhir ini kumulai lewatkan di mesjid Salman. Kenapa mesjid Salaman? Karena itu yang terdekat he,,he,, ngak ada maksud lain^.^
Dua hari berikutnya kulewatkan di Habiburahman, Subhanallah’ aku sempat bergumam “ada ya dunia kayak gini?” begitu banyak orang yang berlomba-lomba mendekatkan dirinya kepada yang Maha Pengasih dan Penyayang. Uniknya tidak hanya Ikhwah-ikhwah muda atau aktivis2 muda saja yang ada, Dari yang junior, senior bahkan super senior berkumpul bermunajat kepada Yang Maha Sempurna. Banyak ibu-ibu dan bapak muda yang membawa serta bayi dan putra putri mereka, bahkan ada keluarga yang membawa anak istri juga cucu. Pokoknya rame, kayak jambore tapi tempatnya di Mesjid.
Untuk pemula sepertiku memang butuh banyak perjuangan untuk dapat qiyam mulail di Habiburahman. Yapz,, bisa menghatamkan sampai lima zuz semalaman.. pokoknya Dahsyat!! Selanjutnya,, tinggal Daarut tauhid!! Meskipun sudah sering mabit disana, tetapi kepengin juga merasakan aroma i’tikafnya.
Kepengennya sembilan hari terakhir ini I’tikaf di bandung,, tpi Ma2h udah Pesen lima hari sebelum Lebaran harus sudah pulang. Tapi rencananya mau di korupsi dikit sih, pulangnya jadi H-3 aja hehe...
Ramadhan Penuh Makna
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
/
Comments: (0)
Hanya syukur dan syukur yang selalu kupanjatkan padamu ya Allah... terutama moment Ramadhan. Begitu setiap perjalanan hidup ini selalu dimulai dengan ramadhan,begitupun ramadhan tahun ini. Masa lalu yang tertingal kini muncul kembali kepermukaan. Tak disangka tak diduga mereka kembali,, orang-orang yang sangat berarti di hati. Ya,, kang Ali, risma, kang Iman dan orang-orang dimasa lalu yang selalu menjadi cahaya dimasa itu. Perjumpaan kembali dengan Risma juga kang Ali membuat waktu terasa kembali kemasa lalu.
Masa-masa SMA yang tak akan pernah terlupakan. ...Jika ditanya , seberapa penting mereka? Akan kujawab mereka sangat penting dikehidupanku. Jika ditanya dimanakah letak mereka dihati ini, maka akan kujawab mereka semua ada dibagian kepingan hati yang tak mungkin digantikan orang lain.
Selama tiga tahun ini, keadaanku belum seperti keadaan semula. Ya’ meskipun kini banyak orang-orang yang sangat peduli. Abang –abang yang begitu perhatian, t2h yang selalu memberikan nasehat sahabat-sahabat yang terus mensuport. Tapi semua itu belum mengobati trauma dan keterpurukan ini.
Karunia Allah jum’at kemarin dipertemukan kembali dengan Risma dan kang Ali (by phone dan by e-mail). Tapi hal itu tak mengurangi nilai dari pertemuan kami. Mulanya diri ini merasa marah dan kesal atas apa yang telah terjadi. Tapi, setelah mendapat penjelasan dan apa yang dialami oleh Kang Ali’ juga Risma, hati ini pun luluh. Semalaman itu sambil berbalas sms air mata ini terus berurai. Kakak-kakaku dan Sahabatku telah kembali, kembali seperti dulu, kembali seperti pertamakali kami menyimpulkan simpul-simpul ukhuah.
Dimalam itu kupenuhi dengan shalat dan dzikir, sebagai wujud syukurku yang tak terhingga. Ya,, “apa yang tidak diberikan Allah kepadaku?”,, semuanya seakan telah sempurna.. akhirnya, simpul-simpul ukhuwah itu kini terjalin kembali. Baraakalahufiik ,,
The Special Moment Of Ramadhan
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Rabu, 02 September 2009
/
Comments: (0)
Minggu, 30 agustus lalu. Saya mendapat kesempatan untuk menjadi mentor pesantren Ramadhan putra putrinya para kader. Mulanya, saya tidak terdaftar sebagai pementor dalam acara yang diadakan oleh DPD PKS kota Bandung yang bermarkas di jln. Kinanti tersebut. Namun, atas ijin Allah SWT akhirnya nama saya masuk kedalam daftar nama pementor. Jujur saja ada rasa khawatir yang menyinggahi, sebab untuk pertama kalinya saya menjadi pementor anak-anak yang rentang usianya dari kelas empat SD hingga kelas satu SD.
Acara yang dilaksanakan di mesjid PT. PINDAD itu dihadiri sekitar delapan puluhan peserta. Saya sendiri diamanahi menangani lima belas orang anak yang kesemuanya ikhwan, karena peserta membludak. Sedikit grogi dan agak bingung ketika pertama kali menemui mereka. Ya, ternyata mengatur anak SMP atau SMA jauh lebih mudah dibandingkan dengan mereka he,,he,,
Ta’aruf peserta dengan pementor,,
Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya amat grogi ketika menghadapi mereka. Intinya sih takut garing.... dengan dimulai basmalah saya mulai mengetahui nama-nama mereka. Ada Aulia (si mungil yang pendiam, dan saya rasa ada banyak kemiripan dengan saya), M Afiq A (^.^ keep Smiling), Zulfan (seorang yang sangat pandai berbicara dan juga luar biasa aktif), Kholil (gayanya sangat Cool, meski masih kelas dua SD he,,he,,) Luthfi M. Al Fatih (anak yang paling kreatif, menurut kacamata penglihatan saya), M. Azka (Smart dan sangat baik hati), Fathur, ravy, luqman, rifki, fadhil ( mereka semua anak manis dan penurut he,,he,,) Azam & Hilmi (si pemberani, adik kakak yang kayak anak kembar), dan yang Terakhir adalah Ghulam (heboh, riweh, dan aktifnya ngak ketulungan’ hiks).
Game ta’aruf dan Explor curhat anak
Kegiatan selanjutnya dilaksananakan di luar ruangan, sebuah games yang sangat mengsyikan. Meskipun saya rasa mungkin mereka belum mengetahui teori2 kepeminpinan, tapi dalam pelaksanaan game tersebut teori2 tersebut sukses diformulasikan.
Momen explor curhat adalah, hal terpenting dalam acara ini. Sebenarnya tujuan acara ini diadakan adalah untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka menjadi putra putri dari para kader dakwah. Dan Subhanallah, saya tidak pernah mengira kalau saya akan mendapatkan jawaban-jawaban yang sangat luar biasa saat ditanya keadaan Umi & Abinya yang sibuk dengan amanah Dakwah. Luar biasa, diusia yang masih sangat muda, mereka semua sudah faham akan urgensi dakwah. Mereka semua telah diberikan pondasi oleh kedua orangtuanya agar dapat melanjutkan amanah dakwah. Badan ini terasa melemas mendengar jawaban-jawaban mereka... saya bersyukur diberi kesempatan untuk dapat bertemu dengan mereka, malaikat-malaikat kecil yang sangat bercahaya. Saya yakin, dibeberapa tahun yang akan datang mereka semua akan menjadi ujung tombak dari dak’wah ini.
Materi AMT
Kali ini giliran dari Trusco, yang menyampaikan materi. Adik binaanku ada yang tertidur pulas,, Aulia, aulia he..he.. Setelah acara AMT, selanjutnya diikuti acara games-games, serta ditutup dengan acara bagi-bagi hadiah. Alhamdulillah.....
Sukses Kecil Ke Sukses Besar
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Rabu, 19 Agustus 2009
/
Comments: (0)
Tiga komandan pasukan dalam Perang Mu'tah itu berguguran sebagai syuhada, Zaid Bin Haritsah, Ja'far Bin Abi Thalib, dan Abdullah Bin Ra-wahah. Pasukan muslim yang berjumlah sekitar 3000 orang memang tampak tidak seimbang ketika harus berhadapan dengan 200.000 orang dari Pasukan Romawi yang dipimpin langsung oleh raja mereka, Heraclius.Kelihatannya, Rasulullah saw sudah meramalkan kejadian itu. Maka, beliau berpesan kepada pasukan ini, apabila ketiga komandan mereka gugur, maka mereka harus memilih seorang komandan baru di antara mereka. Dan yang dipilih oleh kaum muslimin ketika itu adalah Khalid Bin Walid.
Akan tetapi, apakah yang kemudian dilakukan Khalid Bin Walid? Beliau justru menarik mundur pasukannya ke Madinah. Penduduk Madinah tidak dapat memahami strategi ini. Maka, anak-anak mereka melempari Pasukan Khalid, karena menganggap mereka pengecut dan meninggalkan peperangan. Namun, Rasulullah saw justru memberi gelar kepada Khalid sebagai "Saefullah al-Maslul" (Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus).Secara gemilang, Khalid telah berhasil menye¬lamatkan banyak nyawa para sahabat dari sebuah pertempuran yang tidak seimbang. Ini bukan sekadar sebuah pertempuran, tetapi sebuah peperangan. Masih ada medan lain yang akan mempertemukan mereka dengan Pasukan Romawi. Hanya lima tahun setelah itu, Khalid Bin Walid membuktikan sabda sang Nabi dalam Perang Yarmuk.
Sukses dalam Perang Yarmuk adalah puncak dari sederet sukses-sukses kecil yang telah diraih Khalid sebelumnya. Dialah ujung tombak pembebasan Mekkah, komandan Perang Riddah, dan pembuka pintu pembebasan Persi. Maka, begitulah kenyataan ini menjadi kaidah kepahlawanan, bahwa kesuksesan besar sesungguhnya merupakan kumpulan dari kesuksesan-kesuksesan kecil, yang dirakit perlahan-lahan, dalam rentang waktu yang panjang.
Sukses besar, dalam sejarah hidup seorang pahlawan di mana ia mencapai puncak, lebih mirip sebuah pendakian. Tidak semua orang sampai ke puncak. Namun, semua yang sampai ke puncak harus memulai langkah pertamanya dari kaki gunung. Ini kaidah yang terjadi dalam semua medan kepahlawanan.
Imam Syafi'i menulis banyak buku. Namun, prestasi ilmiahnya yang paling gemilang adalah temuannya atas ilmu Ushul Fiqh. Ibnu Taimiyah menulis banyak buku, tetapi kumpulan fatwanyalah yang paling monumental. DR. Yusuf Al-Qardhawi menulis banyak buku, tetapi mungkin buku Fiqh Zakat yang paling prestisius. Sayyid Quthb menulis banyak buku, tetapi Fii Dzilalil Quran yang paling abadi.
Apa yang perlu kita ketahui adalah proses perjalanan dari sukses kecil ke sukses besar. Secara psikologis, sukses-sukses kecil itu membangun dan memperkokoh rasa percaya diri para pahlawan. Akan tetapi, dalam proses kreativitas, sukses-sukses kecil itu memberi mereka inspirasi untuk memunculkan karya yang lebih besar. Ibnul Qoyyim benar ketika beliau mengatakan, "Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mengajak saudara-saudaranya yang lain.
Anis Matta. (Mencari Pahlawan Indonesia)
Akan tetapi, apakah yang kemudian dilakukan Khalid Bin Walid? Beliau justru menarik mundur pasukannya ke Madinah. Penduduk Madinah tidak dapat memahami strategi ini. Maka, anak-anak mereka melempari Pasukan Khalid, karena menganggap mereka pengecut dan meninggalkan peperangan. Namun, Rasulullah saw justru memberi gelar kepada Khalid sebagai "Saefullah al-Maslul" (Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus).Secara gemilang, Khalid telah berhasil menye¬lamatkan banyak nyawa para sahabat dari sebuah pertempuran yang tidak seimbang. Ini bukan sekadar sebuah pertempuran, tetapi sebuah peperangan. Masih ada medan lain yang akan mempertemukan mereka dengan Pasukan Romawi. Hanya lima tahun setelah itu, Khalid Bin Walid membuktikan sabda sang Nabi dalam Perang Yarmuk.
Sukses dalam Perang Yarmuk adalah puncak dari sederet sukses-sukses kecil yang telah diraih Khalid sebelumnya. Dialah ujung tombak pembebasan Mekkah, komandan Perang Riddah, dan pembuka pintu pembebasan Persi. Maka, begitulah kenyataan ini menjadi kaidah kepahlawanan, bahwa kesuksesan besar sesungguhnya merupakan kumpulan dari kesuksesan-kesuksesan kecil, yang dirakit perlahan-lahan, dalam rentang waktu yang panjang.
Sukses besar, dalam sejarah hidup seorang pahlawan di mana ia mencapai puncak, lebih mirip sebuah pendakian. Tidak semua orang sampai ke puncak. Namun, semua yang sampai ke puncak harus memulai langkah pertamanya dari kaki gunung. Ini kaidah yang terjadi dalam semua medan kepahlawanan.
Imam Syafi'i menulis banyak buku. Namun, prestasi ilmiahnya yang paling gemilang adalah temuannya atas ilmu Ushul Fiqh. Ibnu Taimiyah menulis banyak buku, tetapi kumpulan fatwanyalah yang paling monumental. DR. Yusuf Al-Qardhawi menulis banyak buku, tetapi mungkin buku Fiqh Zakat yang paling prestisius. Sayyid Quthb menulis banyak buku, tetapi Fii Dzilalil Quran yang paling abadi.
Apa yang perlu kita ketahui adalah proses perjalanan dari sukses kecil ke sukses besar. Secara psikologis, sukses-sukses kecil itu membangun dan memperkokoh rasa percaya diri para pahlawan. Akan tetapi, dalam proses kreativitas, sukses-sukses kecil itu memberi mereka inspirasi untuk memunculkan karya yang lebih besar. Ibnul Qoyyim benar ketika beliau mengatakan, "Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mengajak saudara-saudaranya yang lain.
Anis Matta. (Mencari Pahlawan Indonesia)
Lelaki Yang Tak Pernah Mencaci Keledai
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
/
Comments: (0)
Lelaki itu heran. Dilihatnya orang-orang berbincang tentang banyak hal. Tetapi selalu saja sumber perbincangannya berasal dari sesososk oarang khusus. Abu juray, lelaki yang heran itu terus mencari tahu. Siapakah geranganan sosok khusus itu. Tak ada pembicaraan orang, kecuali bersumber dari sosok itu.
“Siapa sososk itu?” tanyanya pada orang-orang.
“ Dia Rosulullah.” jawab mereka.
“Alaikasalam ya rasulullah.” gumamnya.
“Hei jangan berkata alaikasalam, tapi katakanlah Assalamualaikum. Sebab alaikasalam itu ucapan untuk orang yang mati.” jawab orang-orang.
Setelah bertemu Rasulullah saw, Abu juray bertanya, “engkau Rasulullah?.”
Rsaulullah Menjawab, “Aku adalah Rasul utusan Allah, Dzat yang apabila kamu terkena kesulitan, lalu kamu berdoa kepadanya, nisacaya ia akan melepaskan kesulitan itu darimu dari kamu.”
Hari itu abu juray belajar tentang Allah SWT. Tentang betapa Maha pengasih dan penyayangnya Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tampaknya ia telah mendapatkan jawaban atas penasarannya. Abu juray kemudian meminta nasihat khusus kepada Rasulullah.
“Nasehati aku dengan nasehat yang mengikat.”Pintanya pada Rasulullah.
“ Janganlah kamu mencaci seorang pun. Janganlah kamu menghina sebentuk kebajikan apapun. Bicaramu dengan sesama saudaramu dalam keadaan wajahmu yang cerah, sungguh itu adalah sebuah kebajikan. Tinggikan kainmu dan jangan kau juntaikan, karena itu bagian dari kesombongan. Dan jika seseorang menghina kamu dan mencaci kamu dengan suatu yang dia tahu bahwa itu memang ada pada dirimu, janganlah kamu membalas menghina dan mencacinya dengan sesuatu yang kamu tahu itu ada pada dirinya. Biarkan kesudahannyya kembali pada dirinya. Dan bagimu pahalanya. Dan, jangan mencaci apapun.”
Hari-hari sesudah itu, bagi lelaki itu, adalah iman, pencerahan, jalan lurus, menunaikan janji yang diminta dari Rasulullah saw dan perjungan mempertakankan konsistensi. Abu juray benar-benar mengambil jalan hidupnya yang tercerahkan. Ia menuturkan, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah menghina dan mencaci seorang pun, budak maupun orang merdeka, tidak pula aku pernah mencaci keledai maupun domba.”
Dilain waktu ia berkata, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah mencaci orang atau binatang.”
Abu Juray telah mengambil sisi besar dalam keputusan hidupnya. Ini bukan sekedar selera pribadi, atau pilihan suka-suka. Siapa pun yang sadar, bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab hidup orang lain pedih dan getir, adalah salah satu bara diantara berjuta bara api yang bisa membakar kehidupan kemanusiaan.
Ini semua pilihan keterhormatan. Sekumpulan nilai-nilai dalam rasa keberartian kita bagi diri sendiri dan sesama. Sulit. Memang. Tapi menyuburkan keluhuran jiwa dan memperkaya kebaikan hati, selalu menghadapi godaannya yang paling besar: diri sendiri.
“Siapa sososk itu?” tanyanya pada orang-orang.
“ Dia Rosulullah.” jawab mereka.
“Alaikasalam ya rasulullah.” gumamnya.
“Hei jangan berkata alaikasalam, tapi katakanlah Assalamualaikum. Sebab alaikasalam itu ucapan untuk orang yang mati.” jawab orang-orang.
Setelah bertemu Rasulullah saw, Abu juray bertanya, “engkau Rasulullah?.”
Rsaulullah Menjawab, “Aku adalah Rasul utusan Allah, Dzat yang apabila kamu terkena kesulitan, lalu kamu berdoa kepadanya, nisacaya ia akan melepaskan kesulitan itu darimu dari kamu.”
Hari itu abu juray belajar tentang Allah SWT. Tentang betapa Maha pengasih dan penyayangnya Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tampaknya ia telah mendapatkan jawaban atas penasarannya. Abu juray kemudian meminta nasihat khusus kepada Rasulullah.
“Nasehati aku dengan nasehat yang mengikat.”Pintanya pada Rasulullah.
“ Janganlah kamu mencaci seorang pun. Janganlah kamu menghina sebentuk kebajikan apapun. Bicaramu dengan sesama saudaramu dalam keadaan wajahmu yang cerah, sungguh itu adalah sebuah kebajikan. Tinggikan kainmu dan jangan kau juntaikan, karena itu bagian dari kesombongan. Dan jika seseorang menghina kamu dan mencaci kamu dengan suatu yang dia tahu bahwa itu memang ada pada dirimu, janganlah kamu membalas menghina dan mencacinya dengan sesuatu yang kamu tahu itu ada pada dirinya. Biarkan kesudahannyya kembali pada dirinya. Dan bagimu pahalanya. Dan, jangan mencaci apapun.”
Hari-hari sesudah itu, bagi lelaki itu, adalah iman, pencerahan, jalan lurus, menunaikan janji yang diminta dari Rasulullah saw dan perjungan mempertakankan konsistensi. Abu juray benar-benar mengambil jalan hidupnya yang tercerahkan. Ia menuturkan, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah menghina dan mencaci seorang pun, budak maupun orang merdeka, tidak pula aku pernah mencaci keledai maupun domba.”
Dilain waktu ia berkata, “sungguh, sesudah itu aku tidak pernah mencaci orang atau binatang.”
Abu Juray telah mengambil sisi besar dalam keputusan hidupnya. Ini bukan sekedar selera pribadi, atau pilihan suka-suka. Siapa pun yang sadar, bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab hidup orang lain pedih dan getir, adalah salah satu bara diantara berjuta bara api yang bisa membakar kehidupan kemanusiaan.
Ini semua pilihan keterhormatan. Sekumpulan nilai-nilai dalam rasa keberartian kita bagi diri sendiri dan sesama. Sulit. Memang. Tapi menyuburkan keluhuran jiwa dan memperkaya kebaikan hati, selalu menghadapi godaannya yang paling besar: diri sendiri.
