
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahaya?
Kawan, apakah kau miliki sosok Arai dihidupmu? Ingatkah kebaikan-kebaikan yang Arai tebarkan untuk Ikal di Sang Pemimpi? Dia, orang yang lebih mendahulukan Ikal dibanding dirinya sendiri. Dia orang yang mau memberikan apa pun yang ia miliki untuk dibagi bersama Ikal.
Adalah adik sepupuku yang memiliki hati sebaik Arai bahkan mungkin lebih. Hati yang penuh kasih dan cinta untuk ia bagikan kepadaku. Usianya setahun lebih muda dibandingkan denganku. Boleh dibilang kami dibesarkan bersama, walau jarak rumah kami berjauhan. Sejak kecil Ia tinggal di rumah nenek karena orang tuanya bercerai.
Yang paling kuingat saat itu, saat masih SMP. Ia selalu menjemputku, Kawan!!. Dengan jahatnya kadang aku tak pernah menyapanya. MasyaAllah, tapi Ia tak pernah marah padaku. Dengan senyum cerianya ia mengekor di belakangku. Meski aku memasang muka masam di depannya.
Waktu pun berlalu, sampai saatnya aku masuk SMA yang berbeda kota dengan-nya. Ia pun tak pernah bosan mengirim kabar kepadaku. Bercerita tentang Aktor dan Aktris Korea favoritnya, tentang Kerbau yang sangat kutakuti, guru-guru yang menyayangiku, bahkan sering menyangka diri-nya adalah diri-ku, tentang cita-citanya yang ingin jadi penulis dan segudang mimpi dan harapannya.
Saat ia memasuki masa kuliah, saat ia mengikuti SPMB, saat itulah aku merasa aku baru jadi orang berguna baginya. Karena, akulah yang mengantarnya kesana-kemari. Akh.. tetap saja ia selalu ceria walau ia tak masuk Sastra. Dia tembus Fisika, kuakui otaknya jauh lebih encer dibanding aku. Tapi, rencanya Allah lain. Semuanya terasa sia-sia saat keluarga berselisih faham tentang kuliahnya. Aku menangis sejadi-jadinya, tapi ia hanya tersenyum. Sudahlah.
Dua tahun berlalu, saat kutemui kembali Araiku. Ia masih seperti dulu. Senyumannya yang khas, menegaskan bahwa Dia tak pernah mengubur mimpi-mimpinya. Dan tak akan pernah menyerah dengan hidupnya. Lalu,, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Araiku!!










