RSS

Rumah Peradaban

Annyeong-haseyo… Lama nian tidak berjumpa denganmu, kawan! Apakah kau baik-baik saja?! Kali ini aku akan menceritakan mimpi terhebatku. Mimpi yang akan kuhujamkan kedalam bumi dan akan kupancangkan ke langit.

Rumah peradaban, inilah wujud mimpi terhebatku. Rumah peradaban tidaklah tercetus dari diriku, tapi rumah peradaban dicetuskan oleh seorang kawan. Namun kini, rumah peradaban tidak akan menjadi mimpinya atau pun mimpiku saja, tapi menjadi mimpi kami bersama.

Rumah peradaban adalah sebuah tempat dimana tunas peradaban dibina. Sudah menjadi sunatullah bahwa tunas baru muncul menggantikan tunas yang berguguran. Kelahiran pun menjadi sesuatu yang dinantikan, karena kelahiran ini adalah kelahiran para generasi baru, kelahiran untuk peradaban baru yang memiliki kekuatan ruh. Peradaban yang dihiasi dengan cahaya iman yang beralaskan keadilan.

Inilah rumah yang akan kami bangun, rumah yang dibangun untuk niatan berbakti kepada umat. Rumah yang dibangun untuk adik-adik kami yang kurang beruntung. Rumah yang dibangun untuk mereka yang punya mimpi dan cita-cita tinggi dengan segala keterbatasan. Rumah yang dibangun untuk melahirkan tunas-tunas peradaban.

Kelak siapapun yang menatap mereka, akan terpesona dengan indahnya akhlak dan kepribadiannya. Seperti se-ekor kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya, terbang ke angkasa untuk menjadi penghias dunia, karena mereka pun terlahir untuk memberikan warna iman bagi peradaban manusia.

Adapun mimpi yang lain, akan kuwujudkan dengan segenap kemampuanku juga. Sehabis wisuda nanti, aku akan melanjutkan bisnisku, bekerja keras untuk umat, mungkin akan kuliah lagi kalau diberikan kesempatan, membangun keluarga dan saya tidak akan menjadi pengangguran. Karena, walau pun tidak punya pekerjaan aku akan terus bekerja hehehe…

KOREA,, sangat ingin mengunjunginya, kenapa coba? Karena aku sangat ingin menyentuh salju xixixi ***

May Be Yess May Be No



Sepanjang perjalanan dua dekade hidup saya yang cerah ceria, ternyata bulan mei ini teramat sangat berkesan. Bukan sudah lulus, saya belum wisuda kawan. Bahkan bila juni ini saya tak kunjung sidang skripsi, maka saya harus bersiap menyambut semester sebelas. Kedip100x, untuk tetangga saya yang menyambut semester dua belas. Hehehe peace!!!

Tiba-tiba saja orang yang sangat saya sayangi setengah mati di dunia ini, ibunda dan ayahanda tercinta mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkan. Bukan, bukan tag line iklan yang dijadikan judul kutak ketik kali ini, “May Be Yess May Be No”.

"abis lulus, kamu mau ngapain??” Papie nampak ragu mengucapkan kata-kata ajaibnya. Dimata Papie saya masih anak perempuan yang jauh lebih muda dibanding usia dan postur tubuh jangkung ini. Tapi jujur saya akui jalan pikiran dan tingkah laku saya tidak lebih baik dari anak kelas 2 SMA. Saya masih suka bangun siang, tidak bisa rapi, suka bertengkar dengan ponakan gara-gara berebut chanel TV, tidak terampil memasak, mencuci dan menyetrika. # Abaikan.

“mau berekspresi diri” jawabku mantap. Mamieku yang cantik, cuman senyum-senyum sendiri. Papie masih sibuk mencerna kata-kata yang kulontarkan. Dan akhirnya, tidak berkomentar sama sekali. Beliau kembali khusyu menatap layar kaca yang hampir dua puluh empat jam tak pernah berganti chanel, selalu TVOne. Makanya, kalo lama diem di rumah jadi rada melek politik dan berita ter up to date.

Back to basic, sebebenarnya saya bingung dengan pertanyaan seperti itu. Berdasarkan pengamatan saya, pada umumnya kebanyakan orang abis kuliah ada lima kemungkinan. Yaitu, bekerja, berbisnis, kuliah lagi, menikah and jadi pengangguran.

Mau jawab bekerja? Kondisi saya sangat tidak memungkinkan. Mau berbisnis? Belum PeDe saya menyebut nama bisnisnya (belum Spesifik). Mau kuliah lagi? mau sih tapi belum kepikiran dimana dan ngambil jurusan apa. Mau nikah? Ngak mungkin juga. Jadi pengangguran oh no!

Mhm… jadi keputusannya adalah saya belum akan memilih kelima resolusi diatas. Saya memutuskan untuk membuat resolusi sendiri. Dan nampaknnya kedua orang yang sangat saya sayangi tak keberatan dengan keputusan saya. “Berekspresi diri” ini adalah mimpi terhebatku. Spesifiknya, cuman saya yang tahu artinya,, kekekek…..

Dua Mata


Ada kalanya kita seperti dua mata
Tak pernah berjumpa, tapi selalu sejiwa

Kita menatap ke arah yang sama
Walau tak berjumpa
Mengagumi pemandangan indah
dan berucap subhanallah

Kita bergerak bersama
walau tak berjumpa
Mencari pandangan yang dihalalkan
Menghindar dari yang diharamkan
dan berucap:astagfirullah

Kita menangis bersama
Walau tak berjumpa
dalam Kecewa,sedih,ataupun gembira, duka dan bahagia
dan tetap berucap:alhamdulillah

—DDU—

Jadikan aku kartini abad ini


Wahai para ikhwan!

Jadilah seorang bapak yang hebat
Jadilah seorang kakak yang hebat
Jadilah seorang adik yang hebat
Jadilah suami yang hebat

Agar tidak membiarkan kami ikut berjibaku diantara pabrik-pabrik yang sempit
Agar kami tidak perlu berdesak-desakan saat melamar pekerjan
Agar kami tidak banyak berkeliaran di luar rumah
Agar kami nyaman dan tentram di area kami

Didiklah kami dengan baik
Jadikan kami guru terbaik dirumah-rumah kami
Yang kami inginkan bukanlah persamaan yang gembar-gemborkan para feminis
Yang kami inginkan, jadikanlah diri kalian ikhwan yang hebat

Agar kami jadi anak yang baik
Agar kami jadi adik yang baik
Agar kami jadi kakak yang baik
Agar kami bisa menjadi ma’mum yang baik

#Yang Ngak setuju tunjuk tangan

File lama MP4 Part 4


Hampir, empat jam mataku memaku di depan layar computer. Aku mencari tahu tentang Indonesia, dan terutama islam, sebuah agama yang banyak dianut penduduk aslinya, termasuk Nisa. Karena inilah jalan satu-satunya agar aku dapat bertemu kembali dengan Nisa, dengan nama itu dia ingin kupanggil. Dia begitu bersemangat ketika menjelaskan tentang agamanya, dia tahu bahwa aku seorang atheis. mungkin. Semangat yang kutangkap dari binar matanya sama persis dengan semangat yang kutangkap di mata Jeremy, yang selalu membujukku mempercayai Jesus. Meski sudah berpuluhan kali kuucapkan, I am atheis and I am not cristiant. Dilain kesempatan pasti Jeremy akan membahasnya lagi. Sama sekali aku tak akan pernah marah pada Jeremy, kesel mungkin.

Indah. Itu kesan yang kutangkap dari artikel tentang islam. Begitu murni dan manusiawi. Semuanya nampak sempurna. Sudut hatiku mulai bergetar. Seolah ada sesuatu yang mengusik nuraniku. Berdesir lirih seperti tadi sore saat aku melihat Nisa. Tidak sampai disitu saja, ada sebuah artikel yang sangat menarik pikirku. “Jesus Crist was a muslim”. Kenapa mereka mengklaim tuhannya Jeremy itu muslim? akan sangat menjadi topik menarik di pertemun berikutnya bersama Nisa.

Kusentuh pizza yang sejak tadi tergeletak begitu saja. Belum sampai ke mulut, tiba-tiba Jeremy muncul dibelakangku. “Hyung aku rindu padamu!” ucapnya sambil mengambil posisi duduk disampingku. Kusumpalkan Pizza dimulutnya. Milikku adalah milik Jeremy, begitu pun sebaliknya. Termasuk apartemenku ini, hanya dia yang bisa masuk seenaknya seperti itu.

Bukannya, baru kemarin kita bertemu? Dasar kau ini. Tapi hyung, kenapa tadi siang saat kuhubungi ponselmu mati, dia langsung mengambil ponselku yang tergeletak diatas meja. Tadi siang ada nenek sihir yang meneleponku. Suaraku tersedak-sedak, karena mulutku dipenuhi potongan Pizza.

Wow… who is Nisa? Dia ada di daftar panggilan kedua setelahku! Your…? Jeremy menatapku penasaran. Sambil mengacungkan ponselku. “Anio, aku baru bertemu dengannya tadi sore”. Dia dari Indonesia dan sangat menarik. “really!” sambil tersenyum tipis alis Jeremy pun ikut terangkat. Seolah dia bisa membaca isi kepalaku.

Indonesia, menurutmu? Kucoba mengalihkan pembicaraan. Setahuku, mirip dengan Malaysia. Tiga tahun yang lalu sebelum Hyung wamil kita konser disana-kan!. “ne”. maksudku apalagi yang kau tahu tentang Indonesia, aku tahu kau lebih pintar dariku! Dengan senyum khasnya yang berbau salah tingkah Jeremy mulai bersuara, menceritakan tentang Indonesia yang dia ketahui.

Masih To Be Continue...

File lama MP4 Part 3


Annyeyong haseyo!! Dia menyapaku ramah sambil melemparkan senyumnya. Wajahnya bersih coklat terang. Berkacamata, tapi dapat jelas kulihat bulu mata dan alisnya hitam pekat, matanya juga. Eksotis! Tutup kepalanya bunga-bunga lili putih yang sangat kusuka diatas warna ungu. Mengenakan pakaian yang mungkin mirip gaun pikirku, bernuansa ungu pula, tapi memakai sweater. Walau terkesan aneh dimataku dia tetap kelihatan sangat manis.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala, menanggapi sapaannya. Tak kusangka dia akan menoleh kearahku. Micky yang kugendong tiba-tiba saja melompat kearahnya. Sangat sigap dia pun menggendongnya, Mimi’ dia tahu panggilan sayangku pada micky. Tak seperti biasanya, micky adalah kucing yang sangat pemilih bila digendong oleh selainku. Tapi dengan gadis itu, micky tergeletak manja dipangkuannya. Setelah aku dapat menguasai diriku, ku coba duduk disampingnya. Aha.. kau pasti mengenalku! Sangat bangga kuulurkan tanganku.

Dia terdiam. Senyum samar menghiasi wajah uniknya yang eksotis. Uluran tanganku diabaikannya. Sebagai gantinya dia merapatkan kedua tangannya di dada. Aku melongo. “Bingung ya?” ini adalah gaya salamanku,” jelasnya. Tentu saja aku mengenalmu.
“ooh….” Aku merasa sangat merasa bodoh dengan ekspresiku. Beberapa detik aku terdiam. Tak tahu harus berkomentar apa.

“Jonen Nisa imnida.”
“Eh, oh.. Mannaso bangabsemnida,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Huh… sangat formal sekali. Kulihat, sambil mengulum senyum dia asyik kembali dengan buku bacaannya yang dia pegang dengan tangan kanan. Sementara itu, Micky nampak terkantuk-kantuk dipangkuannya, tangan kirinya mengelus bulu micky yang hitam legam. Coke dan Snack yang kubawa masih tergeletak diantara kami. Bosen juga aku hanya duduk tanpa melakukan apapun, mencari topic pikirku.

“Apakah kau tergabung di fans klub boysband kami..?” dia terdiam. “Atau mungkin kau sangat terobsesi padaku?” dia masih terdiam. “lantas kenapa kau sampai tahu nama kucingku segala,,? Aku memberondongnya dengan pertanyaan.

“Anio,”. Gubrakk, rasanya aku terjatuh dari sebuah ketinggian dan tak tersisa. Beberapa detik kemudian. “Tapi, aku sangat suka dengan lagu-lagu kalian. Sejak SMA aku mendengar semua hal tentang kalian. Dan aku tidak punya alasan khusus kenapa aku suka Kim Hebum, because you are you,” ungkapnya dalam nada riang. Lega aku mendengarnya, dan tak menyangka kalau dia bisa mengatakan hal itu. Kelihatannya dia lumayan ramah dan menyenangkan. Responnya, membuatku semakin mudah menguasai diriku lagi. Namun yang tak habis dalam pikirku, kalau toh dia memang menyukaiku. Kenapa dia memperlihatkan ekspesi yang biasa saja. Malah dia lebih ramah dengan Micky-ku dibanding denganku.

Satu setengah jam bersamanya, serasa begitu cepat. Paduan kepolosan dan kecerdasan begitu menarik. Mungkin bukan polos, tapi suci, tulus, bersih. Aku sampai lupa dengan tujuanku ke taman ini. Namun, matahari yang tak bisa kuajak kompromi untuk sedikit saja lebih lama menyinari langit seoul, membuatnya berpamitan padaku. Padahal, apa salahnya kalau bersama sejenak menikmati suasana lampu malam taman, pikirku.

Apa daya, dia bersikeras berpamit pulang. akhirnya ku keluarkan jurus yang lain. Kutawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Sempat berpikir cukup lama, namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Selama di dalam mobil ia tak bicara sedikit pun. Pandangannya lurus, mungkin dia takut aku berbuat sesuatu padanya. Segera kutepis pikiran itu.

Akhirnya mobilku berhenti, di depan sebuah blok apartemen. Tanpa basa basi lagi dia turun.” Kamsahamida!”. “annyeyong hegaseyo”. Aku hanya tersenyum dan segera kujalankan mobilku. Kulirik spionku, akh gadis itu langsung berbalik tanpa menolehku. Tapi hal lain yang lebih penting telah kudapatkan adalah nomor ponselnya, kukerlingkan mataku pada micky yang menatapku seolah ingin tahu apa yang kupikirkan.

TBC

File lama MP4 Part 2


Sohee barusaja meneleponku lagi. Gila! Wanita itu benar-benar tidak megerti bahasa manusia, pikirku. Sudah ketiga kali ia mengajaku berkencan dari pagi hari sampai siang ini. Padahal kami baru bertemu kemarin malam, dia adalah personil girls band anyar di manajemenku. Mhm,, bisa jadi dia penasaran dengan desas desus tentangku yang katanya penyuka sesama jenis atau mungkin dia terobsesi berkencan dengan laki-laki yang cantik sepertiku. Dasar maniak! Apalagi yang dipikirkannya selain berpetualang, aku sudah bisa menebak isi kepalanya. Walau bagaimana pun aku sangat berpengalaman dengan wanita-wanita seperti itu. Jujur aku sudah bosan dengan petualangan, kisah cintaku yang masih ku kenang dan kuhargai sampai saat ini adalah sewaktu aku SMA. Walaupun gadis yang kusayang itu meninggalkanku gara-gara aku tidak memiliki masa depan. Setelah aku terkenal, sulit bagiku memahami kembali arti cinta. Semuanya tampak abu-abu, dan aku pun berusaha menikmati keabuanku dan memanfaatkan peluangku jika aku mau.

Kumatikan telepon genggamku. Kuhela nafas panjang setelah memaki Sohee. Aku memang terkenal galak dan jahat dimata orang. Bila aku tak suka tanpa segan aku akan memaki sipapun, apa peduliku. Bahkan beberapa tahun lalu aku sempat menampar rekan artis satu manajemenku. Salah sendiri, si rubah itu berani mengusikku. Akan tetapi, walau aku dicap jahat dan galak aku termasuk orang yang akan memberikan segala yang kupunya bila seseorang berbuat baik padaku. Semua rekanku tahu akan hal itu, dan itu cukup buatku.

Sore yang hangat pun tiba, perlahan kutinggalkan parkiran mobil apartemen. Kukenakan topi, kacamata hitam, syal dan tentu saja masker. Aku tak ingin, kunjunganku ke taman yang bersejarah itu diganggu dengan ulah fans. Angin lembut yang menerpa wajah dan suasana sore yang indah menggoda diriku untuk sedikit bersenandung membersamai perjalananku. Micky celingak-celinguk memperhatikanku, dasar kucing.

Akh.. ini dia, tamannya nampak sangat sepi. Lucky today pikirku. Kubuka maskerku, agar aku bisa bernafas dengan lega. Sebungkus snack dan sekaleng coke ditanganku. Micky, kugendong dalam lenganku yang satu lagi. Micky adalah seekor kucing yang diberikan oleh seorang fans untukku. Berpisah lama dengannya membuatku sangat rindu dan ingin terus selalu bersamanya.

Matahari masih memancar tapi kini terasa lebih lembut dan sendu. Pancaran sinarnya masih bisa dinikmati sedikit lebih lama di musim ini. Ughh… kursi itu ternyata ada yang menempati. Sedikit kecewa, tapi aku tak beranjak sedikit pun dari tempat ku berdiri. Hanya sekitar empat meter jarakku dari kursi yang berada di tepi taman dan agak sedikit tersembunyi itu.

Dia tampak unik dengan pakaiannya, dan seorang wanita yang kelihatan sopan sekali. Terbayang sohee dan berpuluh wanita yang pernah kukencani. Sangat kontradiksi, gadis dengan penampilan privat, tidak seorang pun dapat melihat bentuk tubuhnya, satu lagi gadis dengan tampilan yang sangat terbuka dan sangat bisa dinikmati semua orang. Dia tampak tidak memiliki apa yang dimiliki sohee dan wanita-wanita yang ku kenal lainnya. Wait, mungkin juga ia punya itu, tapi jelas tak terlihat olehku. Dia punya sesuatu yang lain.

Ditengah keasyikannya membaca, tiba-tiba saja dia menoleh ke arahku. Suara micky yang mengeong, tentunya. Sepersekian detik dia bengong menatapku, aku pun masih berdiri mematung terpaku.

TBC