Lama tidak menuliskan sesuatu disini. Mhm... begitu banyak peristiwa yang ingin saya bagi. Tentunya sebagai kesyukuran kepada Allah swt yang telah menganugerahkan semua karunianya. Namun, sepertinya tidak akan begitu detail, kalau dibagikan hanya dalam sebuah judul tulisan. Semoga kedepan saya bisa membagi semuanya dengan lebih rinci.
Baiklah, yang ingin saya bagi adalah 15 Juli 2012 akhirnya saya diwisuda juga hehe.. sebenarnya udah lulus diawal tahun, tepatnya 03 Januari 2012, cuman baru ikutan wisudanya kemarin hehe (photo2 wisudanya nanti nyusul yaa...)
Bisnis saya apakabar yaa,,, Mhm.. yang paling mengasyikan itu adalah bertahan. BERTAHAN dengan segenap jiwa dan raga. Juga sebuah keyakinan yang selalu tertancap teguh pada diri. Bisnis bagi saya adalah kontribusi dan harga mati.
Khalaqahku,, Alhamdulillah' meski penuh sekali rintangan, saya berusaha untuk tetap dalam barisan. meskipun, baru hanya bisa menjadi suporter di belakang layar.
PERMADANIKU,,, akh ini panggilan jiwaku. sekuat apapun godaan untuk meninggalkanmu, aku selalu kembali padamu. Jika Bisnis adalah Kontribusi, dan Dakwah adalah Prestasi maka Kerja itu adalah Ibadah. dan kerjaku adalah PERMADANI, di Ramadhan tahun ini, kami sudah memiliki 100 adik asuh alhamdulillah..
Aku saat ini, selain terus menyusun bata demi bata istana mimpiku, Allah memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi.. Alhamdulillah, karunia yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya. "saat ini, aku masih mahasiswa" hehe dan juga masih "Unyu, free & Single haha"... yang terakhir boleh diabaikan.
10 hari terakhir,, mesjid salman selalu menjadi pilihan. Mesjid Salman, selalu menitipkan rindu yang sulit untuk di urai. Rabbku, ijinkanlah aku beri'tikaf lagi tahun depan di Mesjid Salman.
akhirnya,, hanya terucap "Alhamdulillah..." atas semua karuniamu wahai Rabbku!!!
Ramadhanku Tahun Ini 1433 H
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Senin, 13 Agustus 2012
/
Comments: (0)
Celupan & Perubahan
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Rabu, 23 Mei 2012
/
Comments: (1)
Menara tua itu masih tetap setia menjadi teman bagi mereka. Setia
merelakan pelatarannya dijejali sejumlah manusia yang hampir semuanya
berpenampilan tak biasa. Itulah mereka; sampah masyarakat, orang-orang
tak berguna, dan gelandangan pembuat resah masyarakat. Paling tidak,
tiga hal ini sudah cukup menjadi citra dominan mereka di dalam benak
kebanyakan orang.
Sebelas lebih 30 menit, tepat. Inilah waktu yang
ditunjukkan oleh jam dinding yang terpasang di menara tempat
sampah-sampah masyarakat itu berkumpul dan bercengkerama. Asap rokok
membumbung menuju ke langit, seolah punya niat hendak menundukkan
keperkasaan sang raja siang. Lagu yang syairnya berisi hujatan terhadap
pemerintah pun terdengar membahana, keluar secara serempak dari
mulut-mulut mereka. Dibersamai iringan dua buah gitar yang dimainkan dua
orang dari mereka, dan satu buah alat tabuh yang dimainkan salah satu
dari mereka.
Di sebuah sudut, Jazuri menyaksikan seorang pria yang
juga berpenampilan serupa dengan sampah-sampah masyarakat itu. Duduk
terpekur sendirian. Terpisah dari hingar-bingar teman-temannya yang
lain. Sebatang rokok terapit di sudut bibirnya yang hitam dicat lipstik.
Asap pun mengelun dari bibir dan lubang hidung pria itu.
Jazuri
mendekati pria yang terpisah dari komplotannya itu. Ia mendapati mata
sang pria sedang tertuju ke arah sebuah bangunan artistik yang tepat
berada di seberang pria itu. Bangunan itu adalah Masjid, tempat yang
hendak dituju Jazuri untuk melaksanakan shalat Zhuhur.
Tatkala
pria itu tahu ada seorang Jazuri yang hendak mendekat ke arahnya,
matanya seketika beralih tajam menatap Jazuri. Gayanya yang menyeramkan
pun semakin kentara dengan jelas. Sederet anting nampak terpasang pada
kedua telinganya. Tak mau ketinggalan, bibirnya juga ia pasangi anting.
Hidungnya pun demikian, dipasangi anting juga. Bibir matanya dicat
berwarna hitam. Rambutnya berdiri kaku layaknya rambut seekor landak.
Sebagian sengaja dipangkas habis, sebagian lagi sengaja dibiarkan
tumbuh. Nampak begitu kumal dan tak terawat. Celananya ketat dan juga
penuh tambalan. Bajunya kumal tak pernah dibersihkan. Kok bisa ada orang macam ini ya? Batin Jazuri pun berbisik demikian.
“Shalat yuk..” Ajak Jazuri setibanya ia di tempat pria yang sedang duduk terpekur itu. Berusaha berucap sesantun mungkin.
Tak
didapatinya sebuah jawaban dari mulut sang pria. Mata sang pria malah
kian tajam menatap Jazuri. Jazuri tak mau kalah, dia pun melakukan hal
yang serupa dengan si pria. Ia menatap balik mata si pria dengan tajam.
Sembari melangitkan sebuah do’a di dalam hatinya, ya Allah, lembutkanlah hatinya ya Allah.
Sang
pria berpenampilan mengerikan itu pun kalah, tak kuat bersitatap
terlalu lama dengan Jazuri. Tatapannya sesegera mungkin ia alihkan ke
arah teman-temannya yang sedang bersuka cita dengan dendangannya.
Berdirilah ia, setegak pohon kelapa. Kedua tangannya sengaja ia angkat
tinggi-tinggi. Telunjuk tangan kanan tegak menyangga telapak tangan kiri
yang ia posisikan horizontal, “Boi, berhenti dulu! Ayo kita shalat!”
teriaknya.
Dampaknya memang hebat. Dendangan lagu pun seketika
berhenti. Kawan-kawan pria itu saling bersitatap satu sama lainnya,
seolah memastikan bahwa mereka tak salah mendengar ucapan.
“Ayo! Kita shalat dulu.” Teriak sang pria sekali lagi.
“Siap
Bos!” Ujar sebagian besar dari mereka. Kini mereka yakin bahwa mereka
tak salah mendengar ucapan. Jazuri tertegun menyaksikan realitas itu.
Lebih tertegun lagi tatkala dia mulai tahu bahwa pria bergaya amburadul
yang terpisah dari kawan-katannya itu ternyata adalah ketua komplotan.
Parodi
menakjubkan pun terjadi kemudian. Segerombolan anak Punk bergaya
menyeramkan bergerak serentak menuju ke Masjid. Jazuri kini menjadi
bagian dari mereka. Penampilannya tampak paling berbeda dengan
orang-orang yang ada dalam komplotan. Adzan pun terdengar dikumandangkan
beberapa saat kemudian.
Orang-orang yang di dalam hatinya sudah
bersarang citra buruk akan perilaku anak-anak Punk itu, serta merta
menatap mereka dengan tatapan jijik dan penuh ketidaksudian. Hanya
berpikiran jijik, hanya berperasaan benci. Otak mereka tumpul tatkala
dihadapkan pada pertanyaan bagaimana cara merubah anak-anak yang butuh
sentuhan perhatian itu. Tak mampu berpikir, apalagi mengeksekusi sebuah
solusi. Hanya bisa menghujat, mencela, dan juga mencaci; sampah
masyarakat!, pembuat onar!, gelandangan tak berguna!.
“Ayo, wudhu dulu.” Ujar Jazuri kepada mereka.
Jazuri
menyaksikan pemandangan itu untuk pertama kalinya. Puluhan anak
berpenampilan mengerikan berjejalan menyucikan diri di tempat wudhu.
Rantai yang mereka pasang di celananya masing-masing pun terdengar
bergemerincing karena beradu satu sama lain. Bunyinya berkompilasi
dengan suara cucuran air yang keluar dari keran-keran di tempat bersuci
itu. Sangat indah untuk didengar dan disaksikan.
Wudhu pun purna
mereka laksanakan. Semuanya segera beranjak menuju ke dalam masjid. Ikut
shalat berjamaah bersama dengan orang-orang yang kerap mereka buat
resah.
Setelah shalat selesai, mereka segera ke luar dari dalam
masjid. Orang-orang yang masih tersisa di dalam masjid, seketika
langsung gemerutu satu sama lainnya. Mencela lagi, mencaci lagi,
memvonis lagi. “Aduh! Tu anak-anak bau.. bla.. bla.. bla..”
Kawan,
ini adalah sebuah permulaan dakwah yang nyata dari seorang Jazuri.
Tidak banyak cingcong berbicara penuh busa terkait cara mujarab untuk
mempengaruhi dan merubah orang. Dia langsung mengeksekusi pemahamannya
ke dalam amal yang nyata.
“Makan yuk di rumah saya..” suatu saat
Jazuri mengundang para gelandangan itu untuk makan di rumahnya. Tentu
setelah ia bicarakan terlebih dahulu dengan istrinya. Jazuri dan
istrinya menjamu anak-anak gelandangan yang kerap membuat masyarakat
murka itu dengan jamuan yang paling istimewa.
Kawan, yakinlah
makanan adalah cara mujarab yang bisa kau pergunakan untuk menyentuh
hati manusia. Karena, setelah itu, di luar bayangan Jazuri, ia langsung
diminta oleh para gelandangan itu untuk mengadakan pengajian rutin.
Bayangkan! Anak Punk melaksanakan pengajian rutin. “Bang, kami pengen
ngaji.”
Awalnya sebulan sekali, anak Punk memanggil Jazuri abang.
Lalu ditambah intensitasnya menjadi dua pekan sekali, anak Punk
memanggil Jazuri ustadz. Lalu ditambah lagi intensitasnya menjadi
sepekan sekali, anak Punk memanggil Jazuri dengan sebutan Amirul Shaff (baca: pemimpin barisan). Jadilah forum pengajian pekanan itu layaknya sebuah kelompok halaqah
yang dinamis. Pesan yang senantiasa diingatkan Jazuri pada
binaan-binaanya itu hanya dua hal; jaga shalat dan jangan bermaksiat
kepada Allah.
Hingga pada suatu hari Jazuri terharu merenungi sebuah sms yang masuk ke HP-nya. Sms itu dikirim mas’ul halaqah binaannya yang sebelumnya merupakan ketua gerombolan Punk pembuat resah masyarakat.
“Yaa
amirul shaff, kami akan mengadakan khitanan massal gratis di Desa Antah
Barantah, kedatangan Antum adalah sebuah kehormatan bagi kami. Datang
ya..”
Terpekurlah Jazuri. Hatinya berbunga mendapati perubahan yang demikian cepat dari binaan-binaanya.
Khitanan
massal gratis. Direncanakan dan dieksekusi oleh anak-anak Punk. Sebuah
kegiatan yang aktivis-aktivis berpendidikan sekali pun terkadang
kesulitan melaksanakannya. Yang jadi penyebabnya adalah karena
aktivis-aktivis yang katanya berpendidikan itu hanya mempunyai kemampuan
berkoar di tataran wacana. Urusan eksekusi? Mereka tak tahu entah ke
mana.
—
Cerpen
ini diinspirasi oleh kisah hidup Ust. Herry Rusli. Sebagaimana beliau
sampaikan dalam sebuah acara mabit di Masjid Madliyyah Kampus UGM.
Sumber: www.dakwatuna.com
Kakek Penjual Amplop di Mesjid Salman ITB
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Jumat, 11 Mei 2012
/
Comments: (0)
Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh
seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak
gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop
di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat
dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan
tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.
Kakek Penjual Amplop di ITB
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.
Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.
Kakek Penjual Amplop di ITB
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.
Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.
Bagaimana Kita Menjual
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Selasa, 08 Mei 2012
/
Comments: (0)
Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin
mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales
manager yang baru.
Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.
Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. A menjawab: "Hanya SATU."
Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"
Mr. A menjawab:
"Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."
"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung Sang Buddha."
Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"
Mr. B menjawab: "SERIBU buah!"
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"
Mr. C menjawab:
"Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah
cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan
1,000 buah sisir!"
MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.
Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."
"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita." Meredith Grey, Grey's Anatomy - Season 3
Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%.
Teruslah bersemangat menjadi entrepreneur indonesia...!
(diambil dari tulisan PRAMONO 'PAKDE' DEWO)
Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.
Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. A menjawab: "Hanya SATU."
Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"
Mr. A menjawab:
"Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."
"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung Sang Buddha."
Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"
Mr. B menjawab: "SERIBU buah!"
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"
Mr. C menjawab:
"Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah
cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan
1,000 buah sisir!"
MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.
Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."
"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita." Meredith Grey, Grey's Anatomy - Season 3
Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%.
Teruslah bersemangat menjadi entrepreneur indonesia...!
(diambil dari tulisan PRAMONO 'PAKDE' DEWO)
Tersenyumlah
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
/
Comments: (0)
Bukan karena hidup bahagia lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"hidup jadi bahagia"...
:) Bukan karena semua orang bersahabat lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"semua orang jadi bersahabat"...
:) Bukan karena pekerjaan menyenangkan lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"pekerjaan jadi menyenangkan"...
:) Bukan karena keluarga harmonis lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"keluarga jadi harmonis"...
Bukan dunia yang membuat
"kamu tersenyum",
Tapi senyumanmulah yg membuat
"dunia jadi tersenyum"...
Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah...
HIDUP TIDAK DIUKUR DENGAN BANYAKNYA NAPAS YANG KITA HIRUP melainkan DENGAN SAAT-SAAT DIMANA KITA MENARIK NAPAS BAHAGIA.
Soooo...keep Smiling, keep Shinning....:)
Barakallahu Fiikum...
Catatan Pramono 'Pakde' Dewo
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"hidup jadi bahagia"...
:) Bukan karena semua orang bersahabat lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"semua orang jadi bersahabat"...
:) Bukan karena pekerjaan menyenangkan lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"pekerjaan jadi menyenangkan"...
:) Bukan karena keluarga harmonis lalu
"kamu tersenyum",
Tapi karena kamu tersenyum maka
"keluarga jadi harmonis"...
Bukan dunia yang membuat
"kamu tersenyum",
Tapi senyumanmulah yg membuat
"dunia jadi tersenyum"...
Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah...
HIDUP TIDAK DIUKUR DENGAN BANYAKNYA NAPAS YANG KITA HIRUP melainkan DENGAN SAAT-SAAT DIMANA KITA MENARIK NAPAS BAHAGIA.
Soooo...keep Smiling, keep Shinning....:)
Barakallahu Fiikum...
Catatan Pramono 'Pakde' Dewo
Tentang Misi 40 Hari
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Senin, 23 April 2012
/
Comments: (0)
Untuk yang satu ini sahabat-sahabatku bilang aku sudah agak
keterlaluan, mungkin juga menerutmu. Tapi satu hal yang ingin kutegaskan disini
adalah aku hanya ingin berterimakasih padamu. Rentang waktu Januari hingga
Maret adalah salah satu saat-saat episode terberat di rentang hidupku.
Dan sekenario Allah pun berjalan sesuai kehendaknya, kau
mungkin tak menyadari efek keberadaanmu memberikan dampak besar dihidupku.
Yaa,, peristiwa-peristiwa yang menohok setiap jiwa memang berbeda, dan tak
perlu kuceritakan padamu apa yang menimpaku.
Jangan pernah, merasa terbebani dengan apapun yang
kuperbuat. Empat puluh hari ini hanya ungkapan terimakasih atas keberadaanmu
yang ikut mengisi puzel di hidupku. Pada akhirnya aku hanya ingin menegaskan
melalui tulisan ini, bahwa mungkin benar sikapku agak berlebihan. Tapi sekali
lagi aku tegaskan aku hanya ingin berterima kasih dan percayalah aku pun tengah
belajar untuk tulus.
Mengenai perasaanku yang begitu sering dipertanyakan kebanyakan
orang dan juga mungkin dirimu, sungguh tak perlu kau khawatirkan. Biarlah itu
menjadi urusanku sendiri. Kutegaskan kembali mengenai perasaanku, itu adalah
urusanku. Siapapun tak berhak mengetahui perasaanku.
Dan bila, Allah mengijinkanku melakukan misi ini hingga khatam
empat puluh hari, hanya sampai disitulah yang bisa aku perbuat untuk
beterimakasih padamu, …….kawan!!
Disekitar Arsy terdapat
menara-menara dari cahaya, didalamnya ada orang-orang yang pakaiannya
dari cahaya dan wajah-wajah merekapun bercahaya. Mereka bukan para Nabi
atau Syuhada. hingga nabi dan Syuhadapun iri kepada mereka.
ketika para sahabat bertanya , maka Rosulullah SAW menjawab:
"Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung mengunjungi karena Allah".
ketika para sahabat bertanya , maka Rosulullah SAW menjawab:
"Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung mengunjungi karena Allah".
Pernyataan-Pernyataan Memilukan Tentang Jilbab
Diposting oleh
Reni Shiren Aulia Nuryanti
on Selasa, 17 April 2012
1. “Jilbab itu kan dipake khusus buat shalat atau ke pengajian. Kalau di tempat umum ya mesti dibuka. Bego aja kebalik-balik”.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17997/pernyataan-pernyataan-memilukan-tentang-jilbab/#ixzz1sMQ0yWsw
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17997/pernyataan-pernyataan-memilukan-tentang-jilbab/#इक्ष्ज़्ज़१संक़्फ़्ज्ञो
2. Tidak hanya sampai di situ, si A menyamakan jilbab dengan swimsuit. Pakaian itu penggunaannya bersifat situasional. Kalau mau pergi mengaji ya pakai jilbab. Kalau mau berenang ya pakai baju renang. “Masa renang pake mukena,” tukasnya lagi. “Segampang itu kok nggak paham,”
3. A juga mengatakan pendapat yang bisa mengundang kontroversi, yakni tentang alasan orang beragama. “Kenapa orang beragama? 1) karena miskin; 2) karena rentan dan merasa terancam,” ujarnya…
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17997/pernyataan-pernyataan-memilukan-tentang-jilbab/#ixzz1sMQ0yWsw
dakwatuna.com - Tentang pernyataan pertama; kewajiban berjilbab Allah utarakan dalam Al-Quran secara umum, tidak terikat dengan momen tertentu; khusus untuk di pengajian misalkan. Yang ada malah sebaliknya, ketika shalat diwajibkan, jilbab (menutup aurat) menjadi salah satu pakaian khusus (ketentuan khusus) yang tidak bisa tidak, harus dipakai saat shalat. Jadi, siapa yang kebalik-balik?? Yang benar itu dari umum ke khusus, bukan dari khusus ke umum.
Jilbab dan pakaian renang adalah perbandingan yang tidak jauh berbeda dengan perbandingan antara basket dan main catur, meskipun kedua-duanya sama-sama olah raga, tapi rule of the gamenya berbeda, jika Allah syariatkan jilbab untuk dipakai di semua tempat, maka pabrik pembuat pakaian olah raga membuat pakaian renang khusus untuk di tempat renang. Adat manusia juga tidak membenarkan adanya seseorang yang ceramah di atas podium dengan memakai pakaian renang bukan? sebaliknya, tidak ada seorang pun yang protes jika seorang wanita berjilbab mengisi seminar di depan orang banyak, justru sebaliknya, akan banyak yang protes jika wanita tersebut memakai pakaian “ala kadarnya” ketika mengisi seminar.
Tentang pernyataan ketiga: justru kenyataan yang terjadi saat ini adalah, orang miskin tidak sedikit yang stress, gila. Kenapa gila? salah satu faktornya karena tidak beragama. Agama bukan pabrik yang di situ ada untung rugi materil; yang beragama kaya, yang tidak miskin! tidak selalu begitu. Yang beragama aman dari ancaman, yang tidak, selalu terancam, tidak selalu juga! Yang tepat adalah, kebanyakan orang menjadi begitu religius karena SADAR, sadar akan adanya pencipta, sadar akan adanya nikmat surga dan siksa neraka, sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa. Beda loh, sadar dengan terancam!!
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17997/pernyataan-pernyataan-memilukan-tentang-jilbab/#इक्ष्ज़्ज़१संक़्फ़्ज्ञो
Yuuk intip Jilbab-jilbab Ok, punya syahida Colecction
Pas-01 @65,000
Order Sms via 082115428907







