RSS

Menemukan Side Job Impian



............BB punya........
.............Iphone punya.........
..........Tablet punya.........
"Laptop punya tapiiiii masih ngerasa punya penghasilan pas-pasan?"

Yuuk kita kenalan sama DBcN dan oriflame, ternyata kita dapat berpeluang mendapatkan Rp. 500rb/Bulan, Rp. 1 Jt/bulan, Rp. 3 Jt/bulan atau bahkan lebih…...........???

Ini cerita saya:

Sudah lama sekali saya mendengar tentang DBcN dan Oriflame, tapi yaa gitu dehh cukup sekedar tahu saja. Bahwa banyak sekali para Ibu Rumah Tangga dan  yang memiliki karier pun juga sukses di bidang ini. Namun, kesempatan mengenal lebih dalam mengenai DBcN dan Oriflame ternyata datang saat saya sudah resign dari pekerjaan dan memutuskan menjadi IRT sejati.



Hampir sebulan saya mencoba melakukan Bisnis ini, dengan niat iseng coba-coba. Saya coba titip satu katalog, hanya satu katalog pemirsah di tempat Suami bekerja. Alhamdulillah,,, hasilnya saya bisa Tutup Point (Targetnya tercapai).  Lalu, berapa penghasilan saya? 

Tentunya belum berjuta-juta lah wong baru sebulan ini joinnya. Mana modalnya cuman satu katalog, trus itupun hasil nitip ke suami. Karena Dikota yang baru saya belum mendapatkan banyak relasi dan jaringan. Saya mendapatkan cash money Rp < 90.000,00 plus hadiah Produck dari Oriflame senilai Rp. 198.000,00



Semoga, dibulan berikutnya bisa lebih lancar lagi InsyaAllah. Target minimal saya di bulan Mei adalah mendapatkan  The One Wallet senilai Rp. 349.000,00.  Jujur saya belum maksimal menjalankan marketing Online ala DBcN hehehehehe



Yuukkkk yang sama-sama ingin belajar bisnis Online ini, bisa Hubungi saya Via:

FB: Reni Shiren Aulia Nuryanti
Email: reiazura@yahoo.co.id
BB: 3148CFB2/ 7D17AD13
WA: 082115428907

Deodorant versus Smartphone






Beberapa hari sebelum Miladh, sahabat hati saya pernah bilang kalau dia ngak pernah merayakan miladhnya. Saya yang biasanya dua kali setahun jadi bingung xixixi. Setelah berpikir keras, karena pada saat hari H itu akhir bulan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tart mini yang tastenya belum bergaransi. Juga sebuah kado kecil berupa deodorant dengan Merk “Gatsby double protection Cool schok”. Saya rasa pembaca bisa menghitung yaa, berapa budjet yang saya keluarkan xixixi

Singkat cerita, acara kuliner malem diluar, full family plus potong kue dan ngasih kadopun berlalu. Padahal Hari Miladhnya keesokannya, rada-rada ngaco yaa xixixi. Tapi justru yang seru itu keesokan harinya, saya juga ujug-ujug dapet kado. Smartphone.


Selamat bertambah usia sahabat hatiku. Semoga Allah swt menjadikanmu anak terbaik bagi kedua orangtuamu dan mertuamu. Menjadikanmu Kakak Terbaik untuk adik-adikmu. Menjadikanmu adik terbaik bagi kakak-kakakmu. Menjadikanmu saudara terbaik bagi saudara-saudramu sesama muslim. Menjadikanmu suami terbaik untukku. Menjadi Ayah terbaik untuk putra-putri kita kelak. Yaa Rahman, Ya Rahim, sehatkanlah, anugerahkan rizki yang berkah dan berlimpah, panjangkan usianya dalam kebaikan. Kabulkan semua cita-cita dan harapannya. Akhirnya… Engkau kumpulkan kami di dunia ini, maka kelak kumpulkanlah kami di syurgamu. Aamiin.
 

About Passion in your life

Saya memilih memasang photo ini saja


Foto ini diambil sekitar awal tahun lalu, tapi baru gw ingat posting sekarang. Sebelah gw itu mantan Ketua Osis yang cukup cerdas di jaman sekolah dulu. Mukanya gw mozaik, bukan karena pelaku asusila, atau bintang film JAV. Ya cuma gak enak aja ama orangnya.

Gw cukup shock mendapatinya menggelar lapak meja kecil dan jualan minyak wangi eceran di depan pasar. "Keras kehidupan, teman!" ujarnya bernada pembelaan, padahal gak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan. Di jaman nabi malah berdagang seperti ini adalah sebaik-baik pekerjaan. Kesalahannya mungkin hanya karena berada di tempat yang kurang tepat jika mengingat potensi yang ia miliki untuk mendapatkan karir yang lebih bergengsi. Atau kesalahan boleh jadi ada pada budaya kita dalam dikotomi pekerjaan. Atau kesalahan bisa juga ada pada sudut pandang gw, wallahualam.

Gw gak bilang kerjaan gw sekarang bergengsi, tapi setidaknya bekerja kantoran dan makan gaji bulanan masih lebih dianggap sebagai sebuah pekerjaan beneran oleh sementara orang hingga kini (cih, sombong). Hehe..

Tapi ini serius. Survey membuktikan status karyawan kantoran masih jadi standar kelayakan untuk di-ACC-nya "proposal" oleh mayoritas calon mertua (kecuali calmer yang ngerti penghasilan freelancer pemain SEO, tentunya).

Sebelum bertemu teman ini, kebetulan gw juga bertemu teman yang lain, mantan juara kelas di SMA yang sudah bertahun-tahun menjadi tukang ojek. Agak miris sebenarnya. Apa yang didapatkan pada sekolah formal ternyata gak sepenuhnya menjamin masa depan. Dan gw yakin ini bukan cuma gw yang mengalami. Coba cari teman-teman lo yang dulu berprestasi, di mana sekarang mereka? pastinya gak semua yang mengecap kesuksesan. Bekerja keraspun belum tentu jadi orang. Disiplin ilmu juga gak selamanya menentukan.

Teman-teman gw kuliah di arsitek dulu nyebar secara absurd, ada yang jadi PNS, ada yang di KPU, ada surveyor perkreditan, ada yang kerja di bengkel, salon, dan gw sendiri malah jadi kartunis plus layouter merangkap pemburu side job serabutan. Hiks..

Tapi gw pikir ini sah-sah aja, selama gw masih bisa memilah (bukan memilih), mana pekerjaan yang kiranya masih cocok buat gw lakukan. Kere-kere gini, gw pernah nolak pekerjaan menulis skenario sinetron stripping dengan iming-iming bayaran yang gak sedikit, hanya karena gw pikir dampak mudharat jangka panjang yang ditimbulkan. Ini salah satu keputusan tepat yang gw banggakan dalam hidup, selain keputusan menikah, dan keputusan meng-unfollow Farhat Abbas dari twitter.

Padahal, sekelas selebriti papan atas saja masih banyak yang terkesan serampangan dalam menerima job. Betapa gelinya gw ngelihat aktor watak sekelas Deddy Mizwar yang joget-joget mengenaskan di iklan sosis, atau Afgan yang menurunkan kelasnya dengan bernyanyi jingle iklan "bukan cincau biasa". Tapi sudahlah, toh mereka juga pasti punya alasan melakukannya. Mumpung ada peluang; peluh yang menghasilkan uang.

Eh iya, kemaren gw sempat sebel baca salah satu komen di postingan gw. "Lu tambah kaya dong sekarang?" Ya Alloh, apakah tujuan hidup ini hanya buat kaya doang? Kalo ukuran kekayaan adalah duit semata, sorry.. gw masih jauh panggang dari sate madura. Tapi kalo parameternya selain itu, alhamdulillah gw udah lumayan kaya lah. Punya istri sholehah yang pinter masak dan gak doyan ngutang, punya anak lucu, punya rumah sendiri plus ranjang hello kitty, kurang apa lagi coba?

Orang kadang gak nyadar kalo materi berlebihan itu juga sebenarnya cobaan. Andai gw dikasih kekayaan harta berlimpah, siapa yg menjamin besok-besok misalnya gw gak bagi-bagi mobil ama artis atau nikah siri ama penyanyi dangdut? ini cuma misalnya loh yah.. jangan diambil hati ya, sayang.. (ngomong sama bini yang lagi diem-diem menyimak).

Banyak sebenarnya orang yang punya potensi tapi justru gak pandai memanfaatkan peluang, hanya memasrahkan masa depannya pada garis tangan (kecuali caleg yang memasrahkan masa depannya pada garis bibir, yaitu seberapa lebar tarikan sudut garis bibir pada sunggingan senyum baliho). Padahal Rasulullah saja pernah menegur orang di dalam mesjid yang hanya terus-terusan pasrah dan larut dalam doa tanpa ada upaya untuk berikhtiar ngasih makan anak bininya.

Gw pernah dikasih kata-kata bijak oleh seorang ahli ibadah, katanya tikus aja udah disiapkan rejeki oleh Sang pencipta, gak bakalan kekurangan makanan, jadi gak usah takut. Langsung gw balas, iya itu bener, tapi kalo tikus kelamaan diem bisa juga dicaplok kucing. Walhasil yang ngasih nasehat justru mingkem.

Pasrah dalam bekerja apalagi jika bekerja gak sesuai disiplin ilmu sebenarnya gak masalah, yang penting gak menyimpang secara moral dan agama, punya kemampuan di bidangnya, nyaman melakukannya, dan gak berhenti mencari passion, tentunya.

Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi, salah satu imam mazhab, justru menemukan passion-nya menjadi imam besar di saat usianya sudah menginjak 40 tahun. Sebelum itu ia hanyalah penuntut ilmu biasa.

Bahkan ada yang menemukan passionnya menjadi vokalis justru setelah dua periode duduk di kursi presiden, ada juga yang sebenarnya passionnya adalah fotografer tapi malah nyasar jadi ibu negara. Di daerah gw ada bupati yang passionnya jadi broker tambang, di televisi malah ada tukang sulap yang merasa cocok jadi ustad.

Jadi intinya sebenarnya pengendalian diri. *hloh?* Maksud gw, diri dan masa depan kita ya hanya kita yang bisa mengendalikan. Membiarkan hidup mengalir tanpa perencanaan-perencanaan itu juga gak bagus buat dipertahankan. Gw sendiri yakin gak akan selamanya dengan pekerjaan yang sekarang. Gw masih nyari-nyari apa passion gw sebenarnya. Saking seriusnya mencari passion, gw sampe bela-belain ikut passion show di atas catwalk. Eeh sorry, itu fashion yak?

Pernah beberapa kali gw mikir untuk resign hanya karena jenuh, stagnan, dan merasa kurangnya penghargaan, tapi akhirnya gw gak menemukan kesempatan dan alasan yang lebih tepat untuk membenarkan. Gw kembali mikir bahwa ini hanyalah mood yang berfluktuasi. Toh kalo bisa nyari sampingan sambil tetap bertahan jadi karyawan, kenapa nggak? Niatkan aja pekerjaan yang gak sesuai disiplin ilmu tersebut sebagai batu loncatan menuju passion-passion yang kita yakini suatu saat akan kita temukan. Lagian Robert Kiyosaki bukan nabi yang mesti didenger nasehatnya "jangan lama-lama jadi karyawan".

Yang penting sekarang mulai kencangkan ikat pinggang, hentikan ongkang-ongkang. Gak ada kata terlambat untuk merevisi masa depan. Film aja pake story board, masa kita nggak?

Arham, Kediri

Makan siang di Luar kota, its possible

 Entah sejak kapan saya suka jalan2. Yang jelas kalau para tetangga dan keluarga siih justru bilang saya orang rumahan. Ngak suka nongkrong sana nongkrong sini.

Betul memang, saya tidak begitu suka berinteraksi berlebihan dengan keluarga besar maupun tetangga. Biasanya saya hanya berinteraksi sebagai penyambung silaturahim saja.

Namun semenjak saya kuliah, saya mulai hobi wara wiri a.k.a jalan-jalan tapi itu memang dilakukan personal atau dengan beberapa orang terdekat saja. Karena melihat kondisi keuangan yang pas2an saya jarang pergi ke tempat2 yang waaah. Untuk di Bandung sendiri, spot yang paling saya sukai adalah daerah lembang. Saking cintanya saya ama lembang, saya sempat jalan seharian di lembang mencari jalan pulang.

Mall-mall, taman kota, mesjid-mesjid, kampus-kampus, ampe kebun binatang pun bisa menjadi spot saya untuk jalan-jalan. Kalau pun meski keluar kota, saya akan sangat ketat dalam mengeluarkan budget. Misal Kalau naik bis keberangkatan biasanya saya pakai bis ekonomi, nahh kalau pas pulang baru pake bis ac.

Begitupun saat memilih transportasi kereta, biasanya kalau tiket ke kota tujuan mahal, maka saya akan berusaha mengecer ticket. Misalnya saat ke jogjakarta, semenjak kereta murah ditiadakan saya sering naik kereta ke kutoarjo, abis itu baru nyambung lagi ke jogjakarta hehe. Sampai saat ini saya belum memiliki kesempatan pergi ke luar kota naik pesawat. Mudah2an coming soonlah...

Tadinya saya pikir, semenjak saya menikah cukuplah sudah aktivitas yang saya sebut jalan2 tersebut diakhiri. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata masih bisa dilakukan. Meskipun durasinya memang jarang. Sekitar semingguan pasca menikah, untuk kedua kalinya saya naik kapal feri dan untuk pertamakalinya pula saya menginjakan kaki di tanah sumatra. Mungkin masyarakat kebanyakan nyebutnya bulan madu yang murah meriah hehe

Kenapa demikian, karena kami hanya menyebrang dari merak ke bakaheuni abis itu makan siang di warung padang, liat2 daerah sekitar. Trus balik lagi deeh hehehe

Yang terbaru yaa, kemarin itu. Kami pergi keluar kota untuk makan siang. Kami berangkat dari cilegon menuju serang naik bis yang harganya cukup ramah dikantong. Sesampainya disana, kami memilih mall of serang buat nyicip makan dimsum plus makan kwetiaw and beli sandal buat ibu. Abis itu balik lagi hehehe



Saya sangat mencintai perjalanan, banyak sekali ilmu dan hilmah yanng didapat saat diperjalan. Menurut saya, perjalanan itu membuat seseorang jauh lebih bijak, dewasa dan bikin hidup lebih hidup wkwkwk

Sayang, saat berdua dengan sidia saya jadi tidak pernah ambil gambar. Padahal dulu saya sangat gemar diphoto. Kalau suami sih ngakunya lebih nyaman ada dibelakang kamera, walapun saya Ngak 100% percaya. Mungkin bawaan si Baby kali yaaa, saya yang biasa atraktif depan kamera jadi sama sekali ngak kepikiran buat ngambil gambar hehe